Aku Menikahi Ayah Angkatku dan Dihina Oleh Orang-orang Kampung, Namun Setahun Kemudian, Mereka yang Menghinaku Mula Jeles Denganku

Aku bukan seorang gadis yang beruntung, namun aku adalah gadis yang bahagia. Ketika aku berusia 16 tahun, aku memiliki pengalaman yang menyakitkan. Sejak hari itu, orang-orang di keluargaku mulai jahat sama aku. Mereka merasa aku bukanlah seorang gadis yang murni.

Penduduk di kampung mulai mengkritik orangtuaku bahwa mereka tidak bertanggung jawab. Terkadang ketika mereka pulang ke rumah dan merasa tidak senang, mereka akan memukul aku. Setengah tahun kemudian, mereka memukul aku lagi. Detik itu juga, aku terus memutuskan untuk lari dari rumah.

Tak tau hala tuju nak kemana, aku tidak mempunyai tujuan. Tidak terasa kaki aku mulai berjalan ke rumah abang Razak. Abang Razak adalah orang yang baik. Melihat aku seorang gadis dan masih di luar larut malam begini, ia pun menyuruh aku untuk masuk. Ia memberi aku makan dan tempat tinggal.

Tidak lama kemudian, kaki abang Razak terluka, ia tidak boleh bekerja. Kami pun pindah ke rumah adiknya abang Razak yang bernama Luzman. Di pertengahan jalan menuju ke rumah abang Luzman, abang Razak mau mengantarku pulang ke rumah. Namun, aku menolak. Aku sudah cukup di marahi dan dipukul. Aku sama sekali tidak mau kembali.

Luzman adalah seorang petani dan punya perternakan kambing. Pendapatan bulanannya sekitar 1 ribu per bulan. Meskipun hari-hari susah, namun mereka berdua adalah orang yang baik. Mereka menganggap aku sebagai putri sendiri. Kalau ada yang enak, mereka akan memberiku makan. Kalau aku lagi sedih, mereka akan menghiburku. Namun, aku menganggap mereka sebagai kakak laki-lakiku sendiri.

Lima tahun pun berlalu, aku sudah berusia 20 an. Abang Razak dan Luzman mulai membantuku mencari pasangan. Tapi… tahukan mereka aku sudah mencintai Luzman yang berusia 40 tahun. Aku sudah tidak ingin lelaki lainnya. Aku sudah terbiasa mengandalkan dia, dan menemaninya. Aku pun mengungkapkan perasaanku ke abang Razak, namun ia menolaknya mentah-mentah. Ia mengatakan bahwa aku sudah dianggap sebagai putrinya. Masa menikah dengan putri sendiri, mana masuk akal. Sebelum aku datang ke dalam hidup mereka, Luzman sudah pernah menikah. Istrinya lari setahun setelah mereka menikah, ia merasa hidup Luzman terlalu pahit dan kelewat miskin. Aku pun memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku ke Luzman.

Ia bilang kami beda 20 tahun, dan hidupnya miskin, namun ia memang ada rasa denganku. Setelah membujuk abang Razak, akhirnya ia setuju kami berdua menikah. Ketika berita pernikahan kami menyebar, rasanya kapal pecah. Orang di kampung juga mulai gosip yang enggak-enggak. Yasudahlah. Untuk meningkatkan kehidupan kami, kami meminjam wang sebesar 100 ribu dan memperluas perternakan kambing.

Dari 100 kambing, berkembang menjadi 8000 kambing. Untungnya kami tidak kenal penat, tentu juga kerana ada dukungan dari abang Razak, kami pun mulai sukses. Kami berhasil membangun rumah dua tingkat di kampung tersebut. Sekarang, tetangga baru mulai memujiku. Bisnis kamu juga semakin lancar. Menurutku, hidup ini memang seperti roda berputar. Aku harus melalui hari-hari susah dan berusaha, baru ada hari seperti ini. Janganlah pedulikan pandangan dan perkataan orang lain. Yang penting kamu bahagia dan semua yang kamu jalani itu positif.

SHARE artikel ini yah Sob!

Sumber: BH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *